<iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=7042&sz=468x60" width="478px" height="70px" marginwidth=0 marginheight=0 ></iframe>
Beranda Sastra Daerah Rustam Raschani: Seniman Gamad dari Tarusan
Baner

Rustam Raschani: Seniman Gamad dari Tarusan

rustamJika selama ini masyarakat luas hanya mengenal orang Minang memiliki profesi sebagai pedagang kaki lima, pengelola warung Padang, hingga pedagang sukses sekaliber konglomerat yang jauh dari hidup melarat maka Rustam Raschani justru sebaliknya.   Sebagai perantau, dia tidak pernah bercita-cita menjadi pedagang apalagi membuka restoran Padang di bulan sebagaimana keinginan sebagian besar orang Minang selama ini. Sungguh, mitos mengenai orang Minang dengan profesinya yang cenderung seragam itu terpaksa dipatahkan oleh seorang seniman musik,  penyanyi, dan sekaligus pencipta lagu Minang dan Gamad yang sudah berdomisili di Ibukota Jakarta ini sejak tahun 1969. Dialah Rustam Raschani, seorang seniman tuna netra yang berayahkan orang Tarusan, Pesisir Selatan dan beribukan orang Andaleh kota Padang. Rustam Raschani memang telah memilih jalur hidup yang sepi dan jauh dari gemerlap dan cerita “sukses” sebagian besar impian perantau asal Minangkabau di negeri ini.

 

Dia terlahir dengan nama Rustam di kota Padang pada tanggal 19 Juni 1948. Pada umur satu tahun menderita cacar di wajahnya. Akibat sulitnya pengobatan pada masa lalu, orangtuanya mencoba menyelamatkan wajah Rustam dari penyakit cacar melalui pengobatan tradisional. Namun, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, wajah tampannya berhasil selamat dari kerusakan akibat penyakit cacar itu tetapi matanya mengalami kebutaan akibat terkena cairan belerang. Akibatnya Rustam kecil tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak seperti anak-anak seusianya pada masa itu. Namun, semangat yang tinggi untuk mengenal dunia di luar batas jangkauan matanya yang buta, mengajarkan Rustam untuk memanfaatkan pendengarannya yang masih baik. Dengan berbekal pendengaran ia kerap ikut masuk belajar di kelas yang dipegang oleh kerabatnya di Jambi.

Belajar Menyanyi Secara Otodidak

Sebagai seseorang yang mengalami kebutaan sejak kecil, Rustam memilih radio sebagai hiburannya. Saking gemarnya mendengarkan radio sampai tidur pun dia membawa radio sebagai teman tidurnya bahkan hingga saat ini. Kegemarannya mendengarkan radio itu kemudian memberinya keuntungan yang ganda. Pertama memperoleh berita dan kedua belajar menyanyi melalui mendengarkan radio. Dengan kata lain kemampuan sebagai penyanyi dikemudian hari diperolehnya secara otodidak dengan mendengarkan acara hiburan dari radio. Berbekal semangat yang gigih itu pula kemudian ia mencoba belajar menyanyi dan tidak menyerah begitu saja pada kebutaannya. Dengan mengandalkan pendengarannya itulah, Rustam kemudian berhasil pula menjadi pencipta lagu Minang populer dan Gamad hingga saat ini.

Pada usia delapan tahun Rustam Raschani sudah menjadi anggota sebuah kelompok orkes bernama Varia Nada Muda di Tampino Jambi pada tahun 1963. Pada masa itu, Rustam Raschani yang lebih dikenal dengan nama kecil si Pitok sudah tampil di RRI Jambi dengan kelompok orkesnya tersebut. Kehebatannya sebagai penyanyi cilik pada masa itu telah menggugah hati seorang pegawai perusahaan minyak Belanda yang masa itu masih bernama Maschapij  Niam (yang kemudian menjadi cikal bakal Pertamina) yang beroperasi di Kinali Asam, Jambi. Orang Belanda tersebut pernah  menawarkan untuk melakukan pengobatan bagi matanya di negeri Belanda. Tetapi sayang, tawaran itu ditolak oleh kedua orang tua Rustam Raschani yang takut kehilangan anaknya.

Karier sebagai penyanyi lagu Minang dilanjutkannya ketika dia kembali ke kota kelahirannya Padang pada tahun 1963--1969. Awalnya sebagai penyanyi,  Rustam Raschani mengaku tidak begitu menyukai lagu bergenre Gamad. Dia lebih suka menyanyikan lagu pop Minang modern seperti lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Elly Kasim. Namun, kemudian pandangannya terhadap musik Gamad berubah. Bahkan kemudian dia mulai dikenal sebagai penyanyi Gamad dengan regek ‘lenggok’ suara yang amat sesuai sebagai penyanyi Gamad.

Pertama kali menciptakan lagu dilakukannya pada tahun 1965 dengan karyanya berjudul “Nasib Anak Dagang dan  Alah Bapunyo (Sudah Ada Yang Punya)”. Honor pertamanya sebagai pencipta lagu diterimanya sebanyak Rp7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah). “Bisa hidup selama tiga bulan pada masa itu” tuturnya.

 

Merantau Ke Ibu Kota (Jakarta)

Tahun 1969 Rustam Raschani mengikuti pepatah adat orang Minang yang sangat terkenal itu: “ke ratau madang dahulu berbuah berbunga belum; merantau bujang dahulu di rumah berguna belum”. Maka merantau pulalah Rustam Raschani menumpang di rumah orang tua angkatnya Bapak M. Zakir dan Ibu Nurian Lawat yang sudah lebih dahulu merantau ke Jakarta.  Kemudian,  melalui seorang sahabat, dia dikenalkan kepada Elly Kasim yang waktu itu sudah duluan pula menapakkan kakinya di Ibu Kota sebagai penyanyi Minang. Rustam Raschani mencoba peruntungannya sebagai penulis lagu Minang dengan memperlihatkan lagu ciptaannya yang pertama berjudul “Barangkek Kapa” kepada Elly Kasim pada tahun 1970-an. Namun, lagu itu justru kemudian dinyanyikan oleh Erni Djohan. Selanjutnya karya-karyanya mulai banyak dinyanyikan oleh penyanyi Minang profesional pada masa itu, seperti Oslan Husein yang berduet dengan Ernie Djohan, Elly Kasim, dan Lily Syarif (istri mantan gubernur Jambi beberapa tahun lalu). Menurutnya beberapa lagu ciptaannya yang pernah popular di tengah penggemarnya adalah: “Tarapuang-Apuang (Terapung-Apung), Nasib Anak Dagang, Oi Bundo, Kasiah di Ambun Pagi (Kasih di Embun Pagi), Barangkek Kapa (Berangkat Kapal), Sabaleh Tahun (Sebelas Tahun), dan Alah Bapunyo (sudah ada yang Punya)”. Lagu-lagu ciptaan Rustam Raschani pada tahun 1970-an itu telah masuk dapur rekaman dan direkam dalam bentuk piringan hitam di studio Remaco di wilayah Kota. Karya-karyanya itu pada umumnya dinyanyikan oleh penyanyi lain maupun olehnya sendiri. Khusus untuk Lagu “Tarapuang-Apuang”, Rustam Raschani memiliki cerita tersendiri yang tidak terlupakan. Ketika pertama kali dia menyanyikan lagu itu di depan khalayaknya pada tahun 1973 di panggung utama Jakarta Fair, penonton memintanya menyanyikan lagu itu sebanyak tiga kali. Bahkan hingga saat ini, Rustam Raschanipun selalu didaulat oleh penggemarnya untuk menyanyikan lagu “Tarapuang-Apuang” ini disetiap pertunjukkannya. Meski kadang kala ia mengaku bosan juga setiap tampil harus  menyanyikan lagu yang sama.

Lagu ini sebetulnya menurut Rustam merupakan pesanan dari seorang sahabat yang meminta ia menuliskan sebuah syair lagu yang mengisahkan cinta segitiga. Cinta segitiga seorang lelaki perantau Minang. Dalam kisah cinta segi tiga itu, dikisahkan sebelah hati sang perjaka terpaut pada gadis di kampung halaman tetapi cintanya berlabuh pada gadis Jawa. Amboi, sebuah “dilema” cinta yang banyak diderita oleh lelaki perantau asal Minang kononnyo menurut Rustam Raschani. Untuk menggambarkan dilema yang sering dialami oleh lelaki perantau Minangkabau iRustam Raschani menyampaikannya dalam sebuah ungkapan syair lagunya yang berbunyi: “alah kalah randang jo tempe” (sudah kalah rendang oleh tempe). Alah mak jang!

 

Pengalaman Sebagai Penyanyi Profesional Minang

Pilihan untuk menjadi penyanyi profesional lagu Minang dan Gamad dimulainya pada tahun 1977 akhir. Untuk mewujudkan niatnya tersebut Rustam Raschani mencoba masuk dapur rekaman pertama kali pada awal tahun 1978 di studio rekaman RRI di bawah label Tanama Record  pimpinan Uda Asbas.  Kelompok Uda Asbas ini merupakan kelompok musik  Gamad pertama yang dimasukinya. Jauh berselang sejak ia menganggap genre musik ini sebagai selera kaum tua (tikam tuo) alias ketinggalan zaman. Namun, ternyata, aliran musik Gamad ini pula yang mengantarkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan dikenal sebagai seorang penyanyi musik Gamad dibandingkan dengan musik aliran pop Minang Modern. “Seingat ambo, lagu “Sekuntum Bunga di Tepi Taman” adalah lagu Gamad ciptaan Uda Asbas yang sempat popular pada masa itu dan amat sering diputar di Radio Republik Indonesia” kenangnya.

Intensitasnya yang tinggi dengan dunia musik terutama dengan kelompok musik lokal di perantauan membawanya ke sebuah perjalanan panjang bersama sejumlah kelompok Band yang sudah dimulainya sejak kecil kemudian diteruskannya dengan mengikuti beberapa kelompok Band lainnya setelah dewasa terutama di Jakarta. Misalnya, ia tercatat pernah bergabung bersama:

1. Band Loswita Rama pimpinan  Lim Campay, di Perwakilan Pemda Sumbar

Matraman, Jakarta Pusat (1971-1972);

2. Orkes Gamad Sinar Harapan pimpinan Pak Herman di Asrama UI, Pengangsaan

Jakarta Pusat (1974--1975);

3. Orkes Gamad Gurindam Minang pimpinan One Maemunah di Tanah Tinggi, Ja-

karta Pusat (1977);

4. Orkes Gamad Tanama pimpinan Uda Asbas di Dukuh Pinggir (1978-1979);

5. Orkes Gamad Dayung Palinggam pimpinan Aslim Didong ayah Waty Yusuf di

Jakarta (1979);

6. Orkes Gamad Keluarga Minang di Roxy, Jakarta Barat (1980- an awal).

 

Selain menjadi penyanyi dan memainkan beberapa alat musik seperti bansi dan gitar, Rustam Raschani juga menciptakan lagu. Baik lagu pop Minang maupun lagu Gamad. Diantaranya yang populer adalah lagu Gamad yang berjudul “Ranah Pasisie dan Joged Talibun”. Hingga saat ini tidak kurang dari 100 (seratus) buah lagu karya yang sudah diciptakan oleh Rustam Raschani sepanjang karirnya sebagai seniman musik dan lagu dalam bahasa Minang. Dan kurang lebih 50 (lima puluh) album berupa cassette dan CD lagunya (baik bergenre Pop Minang Modern maupun Gamad) yang sudah direkam dan beredar luas di tengah masyarakat. Beberapa Albumnya yang sudah beredar di tengah penggemarnya adalah:

“Saputiah Hati” (Seputih Hati )

“Minang Tacinto” (Minang Tercinta)

“Tarapuang-Apuang” (Terapung-Apung)

“Sate Piaman” (Sate Pariaman)

“Silasiah” (Album Gamad)

“Sampaya Pabayan” (Album Gamad)

“Kasiah di Bulan Tujuah” (Kasih di Bulan Tujuh) (Album Gamad)

“Kambang Botan (Singkawang)” (Album Gamad)

“Rimbo Larangan” (Rimba Larangan) (merupakan album Gamadnya yang paling anyar).

 

Namun, sebagaimana nasib penyanyi lagu berbahasa daerah pada umumnya, Rustam Raschani masih minus dari kekayaan materi  maupun  royalti atas jerih payahnya itu. Rumahnya yang sederhana di dalam gang di daerah Ciracas, Jakarta Timur, merupakan satu-satunya harta berharga yang dimilikinya. Rumah itu diperolehnya dari hasil kontrak menyanyi yang dikumpulkannya selama lima tahun dan pembangunannya dilakukannya dengan cara berangsur-angsur dengan menggunakan bayaran sebagai penyanyi berbahasa daerah yang meretas hidup di Ibukota sejak 38 tahun silam. Meski tidak “seberuntung” seniman musik asal Minang lainnya, secara materi, Rustam Rascahni yang memilik tiga orang putra (yang hidup hanya dua), tetap mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh sang Pencipta kepadanya dan keluarganya. “Saya bangga karena berhasil menyekolahkan putri saya (Ratna Permata Sari) hingga ke jenjang kuliah di IPB jurusan Fisika”, katanya. Sementara Putra keduanya bernama Achtara Trianda pun sudah bekerja saat ini. Keberhasilan yang paling hakiki bagi Rustam Raschani sebagai seorang seniman berbahasa daerah adalah ketika karya lagunya dinikmati dan diapresiasi oleh khalayak pendengarnya.  Kebutaan yang dialaminya merupakan satu berkah tersendiri baginya. Sebab menurutnya, seandainya dia tidak buta, dia berkeinginan menjadi politisi. Rasa percaya dirinya yang tinggi sebagai seorang penyanyi terlihat ketika dia sudah di hadapan kamera. Dan pada saat itulah kita bisa menyaksikan betapa sebuah kekurangan tidak serta merta membuat seorang Rustam Raschani menjadi rendah diri tetapi sebaliknya menjadikannya sebagai modal untuk berdaya guna sebagai seorang seniman musik dan penyanyi berbahasa daerah.

Hingga saat ini ia mengayuh biduk berumah tangga bersama Isnawati asal Pitalah, Padang Panjang, Sumatera Barat. Pasangan ini telah membina rumah tangga sejak 8 Februari 1984. Cinta mempertemukan mereka berdua pertama kali di Radio Nusantara Jakarta. Ketika itu,  Rustam Raschani bekerja sebagai penyiar di radio tersebut. Pengalaman sebagai penyiar radio ternyata tidak hanya di Radio Nusantara. Dia juga pernah menjadi penyiar di Radio Pembangunan. Albama, Nusantara Djaya dan lainnya.  Saat ini Rustam Raschani melanjutkan karirnya sebagai penyanyi solo.  Dia menunggu undangan (jemputan) dari komunitas urang awak di rantau khususnya Ibu Kota di rumahnya di Jalan H. Baping, Gang Damai, RT 016, RW 04, No 107, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur,  dengan santai dan tidak ngoyo.

Berbincang-bincang dengan Rustam Raschani di rumahnya di dalam gang di Ciracas membuat kita pendengarnya lupa dengan waktu. Tidak terasa tiga jam berlalu sekejap saja. Mendengarkan kisah hidup Rustam Raschani, kita seolah dibawa melihat kilas balik “sejarah” dunia rekaman urang awak yang awal di Jakarta tempo dulu. Melalui kisah dan pengalamannya kita mengingat kembali nama Syaiful Bahri putra Minang asal Suliki sebagai orang Minang pertama yang membuka orkes studio pada tahun 1950-an  di Jakarta dan akhirnya meninggal di Malaysia.

Melalui pengalaman dan daya ingat seorang Rustam Raschani pula kita mengenang kembali nama-nama seniman musik dan penyanyi daerah Minang dan Gamad masa silam. Rustam membawa kita kembali mengingat nama seniman Amir NT pencipta lagu Gamad “Sinar Bulan, Talang Saligi, dan Sarunai Aceh”, juga Taswir Zubir, Lim Campay,  Oslan Husein, Pak Kadir (pemain biola handal asal Bayang), dan lainnya. Rustam juga menceritakan wilayah persebaran musik Gamad di kota Padang yang dulunya hanya sebatas Simpang Haru hingga Lakuak. Berdasarkan sejarahnya, pada zaman penjajahan Hindia Belanda di Minangkabau, kesenian Gamad ini lebih dikenal dengan nama Balenso Madam. Sebuah kesenian yang berkembang di kota Padang dan diperkenalkan oleh bangsa Portugis yang pernah menguasai Pulau Nias dan kota Padang pada abad silam. Konon kabarnya masyarakat Nias  yang dibawa sebagai kuli kontrak ke kota Padang pada masa lalu itulah yang kemudian mempopulerkan kesenian Gamad ini. Sehingga tidaklah mengherankan jika Gamad lebih dikenal luas di sekitar wilayah pesisiran Sumatera Barat saja khususnya di kota Padang pada masa itu. Karena kebanyakan komunitas Nias tersebut menetap di kota Padang terutama di wilayah pesisirannya.

 

“Pertunjukkan musik Gamad pada mulanya hanya menggunakan alat musik biola, harmonium (sejenis accordion yang dijalankan dengan cara memompanya), gendang (rabana), dan kemudian ditambah dengan gitar dan string bass”, tuturnya. “Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa asal-usul Gamad pada mulanya kesenian urang mamukek yang sering berpantun saat di perahunya”, tambah Rustam Raschani.  “Syair lagu berupa pantun itu bisa dinyanyikan dengan irama riang ataupun mendayu-dayu. Atau lebih dikenal dengan istilah langgam dan jogged” tambahnya.

Selain dikenal di Minang, musik Gamad juga dikenal luas di daerah Melayu lainnya seperti, di Riau Daratan, Riau kepulauan, Tanah Deli, hingga ke tanah Semenanjung (Malaysia).

Sebagai seniman musik, mata Rustam Raschani boleh buta, tetapi mata hatinya senantiasa terbuka dan hal itu dibuktikannya dengan sikap rendah hatinya yang selalu mengingat jasa orang-orang yang pernah membimbingnya hingga bisa menjadi penyanyi. Seperti jasa seorang Ibu guru ketika ia masih di Jambi berpuluh tahun lalu bernama Syamsiar yang telah mengajarinya bernyanyi dan membaca tiwatil Quran. Sikap rendah hatinya itu diperlihatkannya pula dengan mengatakan bahwa dirinya bukanlah sehebat penyanyi Gamad seperti, Yan Juned yang jauh lebih senior dan lebih populer dibandingkan dirinya.

Ketika ditanyakan pendapatnya mengenai perkembangan musik dan lagu Minang saat ini, Rustam Raschani mengaku agak sedikit kecewa karena selera pasar mengalahkan idealisme seorang seniman dalam berkarya. “Hakikat keindahan lagu Minang itu terletak pada syairnya yang menggunakan pantun atau ibarat dan bukan bahasa sehari-hari begitu saja yang dinyanyikan”. Katanya. Rustam Raschani juga menyayangkan lagu-lagu Minang yang disampaikan dengan nada cengeng. “Pantang bagi laki-laki Minang itu memperlihatkan tangisnya. Jikapun menangis air mata itu akan ditelannya”. Demikian komentarnya terhadap lagu-lagu Minang (khususnya yang dibawakan oleh penyanyi lelaki) yang saat ini banyak bernada cengeng, meratap, ataupun berhiba-hiba belaka.  “Bagi ambo, penghargaan yang paling tinggi itu adalah ketika masyarakat menghargai karya Ambo”, tambahnya ketika ditanyakan apakah sudah pernah Rustam Rachani memperoleh penghargaan dari pemerintah daerah atau lainnya. Semoga di masa yang akan datang, penghargaan dari pemerintah khususnya Pemda Sumbar akan menghampiri Rustam Raschani (Rasyidin-Chairani Chaniago).

Biodata:

Nama: Rustam Raschani (Rasyidin-Chairani Chaniago)

Tempat/tgl lahir: Andaleh, Padang, 19 Juni 1948

Istri: Isnawati asal Padang Panjang

Anak: 1. Riski Saputra: 26 Februari 1985 (alm)

2. Ratna Permata Sari, 28 Mei 1986

3.Achtara Trianda, 13 Agustus 1988

Album yang sudah beredar:

“Saputiah Hati” (Seputih Hati )

“Minang Tacinto” (Minang Tercinta)

“Tarapuang-Apuang” (Terapung-Apung)

“Sate Piaman” (Sate Pariaman)

“Silasiah” (Album Gamad)

“Sampaya Pabayan” (Album Gamad)

“Kasiah di Bulan Tujuah” (Kasih di Bulan Tujuh) (Album Gamad)

“Kambang Botan (Singkawang)” (Album Gamad)

“Rimbo Larangan” (Rimba Larangan) (merupakan album Gamadnya yang paling anyar).
blog comments powered by Disqus
 

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Online
Kami memiliki 19 Tamu online
Komentar Terbaru