<iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=7042&sz=468x60" width="478px" height="70px" marginwidth=0 marginheight=0 ></iframe>
Beranda Puisi Helian
Baner

Helian

Pada detik-detik sunyi sang ruh

Alangkah indah melangkah di cahaya mentari

Menyusur tembok kuning musim panas.

Di rerumputan, langkah mendesir lembut; namun selalu

Putra dewa Pan terlelap di marmer kelabu.


Di beranda, senja hari, kita mabuk anggur kirmizi.

Persik membara merah di dedaunan;

Merdu sonata, riang tawa.


Alangkah indah senyapnya malam.

Di hamparan gelap

Kita bersua gembala dan putih gemintang.

Saat musim gugur tiba 

Keberjagaan hadir di hutan.

Tenang sudah, kita susuri tembok-tembok merah,

Dan mata bulat mengamati burung di angkasa.

Di senja hari, air putih meresap ke perabuan.

 

Di ranting kerontang langit berpesta.

Di tangannya yang suci petani membawa anggur dan roti,

Dan damailah bebuahan meranum di bilik bermentari.


Alangkah tegas wajah-wajah si mati tersayang.

Namun jiwa kan gembira dalam adil tatapan.               
 
 
Alangkah dahsyat kebisuan taman binasa

Saat biarawan memasang daunan sebagai mahkota,

Saat nafasnya mereguk dingin kencana.

Tangan-tangan meraba usia perairan biru,

Atau pipi putih para saudarinya di dingin malam.

 

Lembut dan serasi, lelangkah menyusuri kamar ramah, 
Tempat desau pohon maple dan sunyi,                      
Tempat murai mungkin masih bernyanyi.


Eloklah manusia, menjelma dalam gulita,

Saat dengan takjub ia gerakkan badan,

Saat matanya mengerling senyap di ungu rongga.

 

Pada doa sore, si asing tersesat di hitam remuk november,

Di bawah reranting rapuh, menyusur tembok berlumur kusta,

Tempat abang suci dulu melangkah,

Tenggelam dalam denting merdu kegilaannya.

Alangkah sunyi tamatnya angin malam.

Sekarat, kepala melunglai di gelap zaitun.


Runtuhnya trah, alangkah mengguncangkan.

Saat itulah mata si pemandang mengisi diri

Dengan kencana gemintangnya sendiri.


Di senja hari, terbenam sebuah genta yang tak lagi berbunyi,

Tembok-tembok hitam di kota beruntuhan,

Dan si prajurit mati mengajak berdoa.

Menjelma malaikat pucat, sang putra

Memasuki rumah leluhurnya yang hampa.


Semua saudari menyambangi lelaki renta.
Sekembalinya dari kembara penuh duka, saat malam 
Mereka ditemukan si penidur di bawah pilar rumah. 
 

Alangkah lengket rambut mereka oleh cacing dan tinja,

Saat kaki keperakannya memijak itu semua,

Saat mereka, mati sudah, keluar dari kamar-kamar hampa.


Wahai, mazmur-mazmur dalam bara hujan tengah malam,

Saat buruh tani mendera mata lembut dengan ilalang,

Saat buah-buah kekanakan pohonan murbei

Merunduk takjub di atas kosong kuburan.


Bulan-bulan pucat menggelinding sunyi

Di ranjang demam si pemuda,

Sebelum ia menyusul bisu musim salju.

 

Suatu takdir mulia termangu di arus sungai Kidron

Tempat pohon cedar, makhluk lunak itu,

Mekar di bawah alis biru sang ayah

Tempat gembala mengasuh dombanya di padang.

Juga ada jerit dalam kelelapan,

Saat malaikat angkuh datangi manusia di hutan,

Saat daging sang Santo meleleh di panggangan membara.

 

Anggur ungu rambati dangau-dangau,

Risik rerumpun gandum kuning,

Senandung lebah, kelepak bangau.

Di senja hari, yang dibangkitkan bertemu di jalan berbatu.

 

 

Di air hitam orang-orang kusta memantul;

Atau mereka, dalam ratap, bukai jubah berlumur tinja

Ke balsam angin yang bertiup dari bukit merah jambu.

 

Gadis petani merayau di lorong malam,

Ingin berjumpa gembala pengasih.          
Merdu nyanyi malam minggu membahana di dangau.      
 
Biar jadi lagu kenang bagi si pemuda,                

Kegilaan, putih kening, kematian, bahkan

Bagi busuk jasadnya yang membelalak biru.

Alangkah pilu kembalinya kemelekan ini.


Tangga-tangga kegilaan di kamar-kamar hitam,

Bayang leluhur di bawah pintu terbuka,

Saat jiwa Helian berkaca di cermin merah jambu      
Saat dari dahinya meleleh kusta dan salju.

Telah padam gemintang di dinding

Juga sosok-sosok putih sang cahaya.


Dari permadani bangkit belulang kuburan,

Juga kebisuan salib-salib yang runtuh di bukit,

Juga manis dupa dalam ungu angin malam.


Wahai mata remuk di mulut-mulut hitam,

Saat sang cucu dalam lembut kelam jiwa,

Sendiri, renungi akhir yang lebih gulita,

Saat dewa senyap anugerahi biru kelopak mata.

 

Catatan:

Helian: Nama sosok lelaki fiktif yang dicipta oleh Trakl sendiri. 

Pan: Dewa Hutan dan para gembala dalam mitolgi Yunani. 

Kidron: Nama sungai dan lembah dekat Yerusalem yang banyak disebut dalam Bibel, kitab suci Nasrani. 


blog comments powered by Disqus
 

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Online
Kami memiliki 9 Tamu online
Komentar Terbaru