<iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=7042&sz=468x60" width="478px" height="70px" marginwidth=0 marginheight=0 ></iframe>
Beranda Puisi
Baner

Puisi

Federico

seperti peperangan yang menyerang sebagian usiamu

kita pun bergermuruh, menciptakan laut dari seratus ciuman panjang

di sana kita tanam ikan bersisik gelap yang lihai melahap masa silam,

kamu tahu, segala yang gelap menyerupai kulit nasib

dan warna percintaan kita

 

jangan pejamkan matamu yang kerap memuntahkan puisi itu,

ketika pelurupeluru mendesing, menggumamkan pujian ganjil

sebab musimmusim telah mendirikan rumah di belukar ingatanmu

 

dan maut sekadar perjalanan ringan yang akan menuntaskan

segala yang belum lunas

 

2011

Add a comment
 

Maka Menjauhlah

“sebelum cahaya purnama menguningkan usia

aku akan menjauhimu,” katamu malam itu

 

baik, menjauhlah dariku, menjauhlah

sebab sebenarnya melalui celah kenangan aku selalu mendekatimu

sambil menasbihkan darah dari seluruh kepergian yang alpa dikatakan puisi

mengingat dirimu sebagai gerimis yang gagal jatuh ke ceruk mataku

 

harihari yang berlari di halaman kalender telah melahirkan sekaligus

melarikan segalah hal di balik dadaku. kepergianmu hanya dipahami

pesanpesan pendek yang membusuk dalam inbox ponsel, juga percakapan

kosong antara kita pada jeda usia yang terlalu susah untuk dilupakan

padahal kita hanya bercerita tentang nama yang itu itu juga, ihwal perasaan

yang pernah diucapkan oleh banyak orang

 

menjauhlah, karena kita telanjur tersesat dalam pembicaraan tanpa daging

tidak sengaja terjebak dalam basabasi dan ilusi perkawinan

maka menjauhlah dan sempurnalah engkau sebagai kenangan

 

2011 Add a comment
 

Mengaji Dirimu

pukul tiga dinihari tubuh kita sempurna menjelma sungai doa

menggapai masa silam yang terselip di celah batubatu usia

 

ikanikan berenang di dasarnya, sambil menulis ayatayat kenangan

dengan mata yang tidak kunjung terpejam

 

demikianlah aku mengaji dirimu, melewati kesamaran demi kesamaran

melalui alif lam mim yang bertiup dari hulu dongeng kejatuhan

 

2011 Add a comment
 

Kita Nyalakan Lilin Dalam Kamar

padamkan suaramu yang bertahun merahasiakan birahi kemarau

kamar ini tidak lagi membutuhkan nama, kata, dan bahasa

temboktembok berdiri mengelilingi jasad kita

cerlang lampu telah berganti dengan temaram lilin

kamu tentu paham terkadang aku membenci ruangan terang

seperi membenci kalimatkalimat yang dimuntahkan

koran, televisi, dan percakapan kebanyakan orang

 

padamkan suaramu, dan kita mulai menafsirkan cinta seperti sebermulanya

lihatlah, keredupan menjelma belukar yang melilit tubuh kita, sepasang sangkar

bagi gairah purba yang liar. aha, dari pinggulmu tumbuh rumput keabadian

merambat ke arah dadaku. kala itu waktu menyerupai pejalan batu

 

padamkan suaramu. dan pada tembok itu kita saksikan sepasang bayangbayang

yang saling membakar, saling menyalakan. lalu kita bertanyatanya

tentang siapa yang terlebih dahulu mengabu lantas berlalu

mengikuti kefanaan waktu

 

2011 Add a comment
 

Kenangan Yang Lapar

kitalah sepasang kenangan yang lapar

terlempar dari kubangan perbincangan orangorang

mencari wujud malam pada belantara mimpi batu

 

manakala tamutamu datang membawa sekantung ingatan

ucapkan apa saja kecuali kesakitan yang dititipkan

jemari hujan

biarkan ia menggenang di trotoar jasadmu

dan membasahi kehausan masa lampauku

 

setia sebagai rahasia yang lihai mengelabui dosa

 

kitalah sepasang kenangan yang lapar

melompati kalender yang menyulap wajah tahun

menjadi jutaan nama yang begitu sulit dilafalkan

lidahmu dan lidahku yang telah menjadi satu

 

kitalah sepasang kenangan yang lapar itu

 

2011 Add a comment
 
Artikel Lain...

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Online
Kami memiliki 20 Tamu online
Komentar Terbaru