<iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=7042&sz=468x60" width="478px" height="70px" marginwidth=0 marginheight=0 ></iframe>
Beranda Esai Puisi, Kota, dan Modernisasi:
Baner

Puisi, Kota, dan Modernisasi:

Mencari Suara Lain Peradaban Modern Indonesia dalam Arsitektur Hujan

“Puisi adalah suara lain”
—Octavio Paz

“Puisi lahir dari latar waktu yang tak terduga ”
—Afrizal Malna

I

Karangan ini dibuka dengan dua kutipan. Kutipan pertama datang dari penyair Meksiko, Octavio Paz dan kutipan yang kedua dari Afrizal Malna, penyair Indonesia. Keduanya merupakan bagian dari negara ketiga dan dari negara yang sama-sama pernah dijajah oleh Eropa.  Saya sengaja mengutip kedua orang tersebut karena menurut hemat saya, keduanya mempunyai cara yang sama dalam memandang kebudayaan dan peradaban negaranya, yaitu melalui sastra terutama puisi.

Dalam esainya, The Other Voice[1], Octavio Paz menyebutkan puisi sebagai suara lain. Octavio Paz memberikan gambaran mengenai hubungan sejarah, puisi, dan manusia. Baginya puisi sama purbanya dengan sejarah manusia. Jika sejarah adalah suara, puisi adalah suara lain. Selebihnya Paz menyebutkan, “Puisi disebut suara lain karena ia adalah hasrat-hasrat dan visi-visi. Ia berada di dunia yang lain, tentang hari-hari pada masa lampau dan pada hari-hari sekarang, suatu kekunoan tanpa titi mangsa.”[2] Puisi menghubungkan dunia asali dengan dunia yang lain melalui imajinasi-imajinasi. Hubungan antara realitas dan imajinasi merupakan faktor utama dalam karya sastra terutama puisi. Dalam puisi, analogi-analogi, metafora-metafora, maupun peralatan lainnya digunakan untuk menghubungkan realitas-realitas yang bertentangan dan menjadikannya entitas kecil yang menggerakkan kosmos.[3] Seperti Octavio Paz, Afrizal Malna menganggap bahwa puisi terlahir dari latar waktu yang tak terduga dan pada massa yang mengelilinginya.[4] Keduanya memiliki nafas yang sama dalam puisi yakni puisi berada pada sekeling massa dan pada sejarah yang menaunginya serta puisi membawa suara lain.

Beranjak dari hal tersebut, saya tertarik untuk menelusuri suara lain yang berbicara dalam perpuisian Indonesia. Dalam karangan ini, saya tidak menelusuri semua puisi yang terdokumentasi dalam kesusastraan Indonesia. Saya hanya menelusuri puisi yang ditulis oleh Afrizal Malna dalam kumpulan Arsitektur Hujan (1995) karena Afrizal Malna tumbuh dan besar di kota mertropolis Jakarta. Pertanyaan yang menjadi pokok pikiran karangan ini adalah bagaimanakah suara lain peradaban Indonesia yang ditulis dalam Arsitektur Hujan?

II

Sebelum menjawab pertanyaan pada paragraf sebelumnya, di bagian ini penjelasan mengenai hubungan kebudayaan dan peradaban menjadi inti pembicaraan. Kebudayaan memiliki makna yang sangat kompleks. A. L Kroeber dan Kluckhohn, dalam buku Culture, a Critical Review of Concepts and Definitons, setidaknya menyebutkan 179 definisi kebudayaan. Nat. J. Colletta mendefinisikan kebudayaan sebagai perilaku berpola yang ada dalam kelompok tertentu yang anggota-anggotanya memiliki makna yang sama serta simbol yang sama untuk mengkomunikasikan makna tersebut.[5] Makna-makna tersebut terpatri dalam sistem simbolik yang direpresentasikan dalam kebiasaan, pranata, perwujudan fungsi, dan fungsi tersembunyi lainnya.

Dalam buku Pengantar Antropologi, Koentjaraningrat mendefinisakan kebudayaan sebagai kegiatan belajar. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.[6] Dari definisi yang dipaparkan oleh Koentjaraningrat, kita dapat menarik tiga pokok penting dalam kebudayaan yaitu gagasan, tindakan, dan hasil karya. Ketiga pokok tersebut sering disebut sebagai wujud kebudayaan. Ketiga wujud tersebut saling berhubungan satu sama lain. Akan tetapi, kita dapat melihat kebudayaan dari satu wujud kebudayaan dan menafsirkan kedua wujud kebudayaan yang lain. Koentjaraningrat juga memaparkan tujuh unsur kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian hidup, (6) sistem religi, dan (7) kesenian.[7] Ketujuh unsur kebudayaan tersebut merepresentasikan wujud kebudayaan, misalkan, dalam bahasa. Dalam bahasa kita akan menemukan gagasan purba bahasa yaitu sebagai alat komunikasi, tindakan dalam bahasa adalah tindakan saling bertukar pesan satu sama lain, dan hasil karya dari bahasa adalah tulisan.

Lalu bagaimana dengan peradaban? Adakah perbedaan yang mendasar antara peradaban dengan kebudayaan? Secara kasat mata, kedua istilah tersebut sama sekali tidak  mempunyai perbedaan yang cukup ketat. Keduanya memiliki persamaan yaitu sebagai bagian dari kehidupan manusia dan sebagai sistem simbolik. Jika kita melihat kata ‘kebudayaan’ dan ‘peradaban’ dalam bahasa Inggris, kita dapat mengetahui perbedaan kecil dari kedua istilah tersebut. Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk kebudayaan adalah culture. Sedangkan peradaban dalam bahasa Inggris adalah civilization. Kata ‘culture’, mengutip Koentjaraningrat, mengacu pada segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah (sic!), sedangkan kata civilization biasanya dipakai untuk menyebut bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah.[8]

Dalam makalah “Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya”, Masinambow menjelaskan perbedaan antara kebudayaan dan peradaban. Penjelasan Masinambow hampir sama dengan penjelasan sebelumnya. Akan tetapi, Masinambow menekankan unsur ‘kemajuan’ sebagai pembeda utama kebudayaan dan peradaban. Ada dua aspek kemajuan yang diutarakan Masinambow dalam makalah tersebut. Kemajuan yang pertama adalah kemajuan yang menyangkut kehidupan sosial di kota. Kehidupan kota dianggap lebih maju dibandingkan dengan kehidupan di desa. Dengan mengutip Kroeber dan Kluckhohn, Masinambow menyebutkan dalam pengertian peradaban terkandung pula suatu unsur keaktifan yang menghendaki agar “kemajuan” itu wajib disebarkan ke masyarakat dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah yang berada di daerah-daerah pedesaan yang terbelakang. Unsur lain dalam peradaban yang berkaitan dengan ‘kemajuan’ adalah kemajuan sistem kenegaraan yang jelas dapat dikaitkan dengan pengertian civitas.[9] Jelas sekali penjelasan mengenai peradaban yang diutarakan oleh Masinambow terkait dengan proyek modernisasi. Dalam hal ini, kota dan negara (nation state) merupakan pokok penting dari sebuah peradaban. Kedua hal tersebut juga sebagai penanda sebuah kebudayaan dianggap sebagai peradaban yang tinggi. Jika kita analogikan hubungan peradaban dan kebudayaan ibarat bibir dan mulut. Keduanya memiliki kesamaan, namun memiliki pemaknaan yang berbeda.

III

Bagaimana hubungan puisi dan kebudayaan? Puisi atau karya sastra tentu saja tidak diciptakan begitu saja. Imajinasi-imajinasi yang tercipta dalam karya sastra memang bersifat individual. Namun, dalam lingkup keindividuannya, karya sastra dipengaruhi oleh konvensi-konvensi bahasa dan budaya karya sastra itu diproduksi. Seperti yang diungkapkan Sapardi Djoko Damono, “Karya sastra pada hakekatnya adalah suatu bentuk pengungkapan kehidupan melalui bahasa. Sastrawan menggunakan pengalaman kehidupannya sebagai bahan sastra. Dengan demikian, suatu kehidupan tertentu yang dialami oleh sastrawan dengan sendirinya akan melahirkan suatu jenis karya sastra.”[10] Jauh sebelum Sapardi Djoko Damono, Aristoteles menggambarkan karya sastra/puisi  sebagai cerminan dunia (dalam bahasa Yunani disebut mimesis).[11] Pandangan Aristoteles mengenai puisi sebagai mimesis dunia kenyataan kemudian dijadikan panutan beberapa teorikus-teorikus modern untuk mempelajari karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan dan mempelajari kebudayaan melalui karya sastra.

Beberapa teorikus yang memakai ancangan Aristoteles adalah M.H. Abrams dan Paul Ricoeur. M.H. Abrams, dalam menelaah karya sastra, menawarkan empat pendekatan. Salah satu pendekatan yang ditawarkan oleh Abrams adalah mimetik. Dalam pengertian Abrams, mimetik adalah aspek referensial dan acuan karya sastra pada dunia nyata.[12] Lain halnya dengan Abrams, Paul Ricoeur mengatakan bahwa dalam karya sastra (baca: puisi) merupakan wujud yang paling tepat dalam konsep mengada-dalam-dunia. Selebihnya ia menyebutkan,

Narasi, cerita rakyat, dan puisi bukannya tidak memiliki rujukan, tetapi rujukannya tidak berhubungan dengan bahasa sehari-hari. Mengenai cerita fiksi dan puisi, kemungkinan-kemungkin baru mengenai mengada-dalam-dunia terbuka dalam realitas sehari-hari. Cerita dan puisi menginginkan ke-be-rada-an itu bukannya berada pada modalitas ‘ke-ber-ada-an yang given’, tetapi di bawah kekuatan-untuk-menjadi. Dengan demikian, realitas sehari-hari diubah oleh apa yang disebut dengan variasi imajinatif yang diwujudkan oleh sastra ke dalam kenyataan.[13]

Paul Ricoeur melengkapi ancangan Aristoteles mengenai mimesis dengan metafora. Metafora yang ditawarkan Paul Ricoeur tidak sebatas pada kata melainkan lebih dari kata. Metafora berada pada seluruh tubuh teks sastra itu sendiri. Melalui metafora, penggambaran kembali mimesis realitas akan menjangkau esensi realitas itu sendiri (baca: kebudayaan).

Dari penjelasan tersebut dapat kita ambil benang merah bahwa karya sastra mempunyai hubungan cukup erat dengan kebudayaan. Di satu sisi, karya sastra merupakan dokumen sosiokultural dan di sisi lainnya karya sastra mampu mereprentasikan realitas melalui bahasa metaforis sehingga kebudayaan atau realitas dapat menjangkau esensi kebudayaan atau dalam ungkapan Octavio Paz sebagai suara lain dan dalam ungkapan Paul Ricoeur mengada-dalam-dunia.

Dalam menjawab pertanyaan pada bagian pertama karangan ini, saya memakai pendekatan mimetik dan hermeneutik Ricoeur untuk menemukan suara lain dalam peradaban Indonesia. Peradaban dalam hal ini dikontekstualisasikan pada pengertian peradaban yang telah dijelaskan pada bagian kedua karangan ini yaitu pada kota dan nation state.

IV

Peradaban Indonesia telah dinarasikan dalam beberapa buku sejarah baik yang ditulis oleh sarjana dalam maupun sarjana luar negeri. Ricklefs, dalam buku A History of Modern Indonesia c. 1200, menarasikan sejarah Indonesia ke dalam enam bagian. Bagian yang menarik dan sebagai kontekstualisasi dalam mencari suara lain peradaban Indonesia adalah bagian keenam. Pada bagian keenam, Ricklefs menarasikan puncak peradaban Indonesia pada masa Presiden Soeharto. Pada masa itu pula, puncak peradaban ditandai dengan majunya sistem negara dan sistem kota, dalam hal ini kota yang paling maju adalah Jakarta karena Jakarta merupakan ibukota negara. Ricklesf menulis,

For about a dozen years Soeharto’s ‘new order’ enjoyed remarkable success. Its economic development plans were catapulted forward by the revolution in oil prices of the 1970s. As Jakarta became a metropolis of gleaming skyscrapers, a new middle class emerged. That middle class was prepared to tolerate much of the corruption and some of the oppression exercised by the regime because the benefits to itself and to future generations seemed so great. The gains of economic development began to flow also to the poor and to rural villages. Internationally, Indonesia retained the favour of its Westernoriented donors and trading partners, while also exploiting some opportunities for collaboration with Communist states.[14]

Dalam kutipan tersebut kita mendapatkan gambaran bahwa pada tahun 1970, Indonesia mencapai titik puncak peradaban pada era Orde Baru. Kemajuan tersebut ditandai dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kota Jakarta menjadi kota metropolis. Jakarta juga menjadi ujung penting dalam peradaban Indonesia. Sebagai ibukota negara, Jakarta menjadi magnet bagi para kaum urban yang ingin mencari pekerjaan atau perbaikan nasib. Jakarta mengalami perubahan drastis baik segi sosial maupun perekonomian terbukti dengan banyak bermunculan gedung-gedung bertingkat di pusat kota Jakarta.

Apa yang diutarakan di atas merupakan narasi sejarah Peradaban Indonesia, dalam hal ini kota jakarta merupakan simbol kemajuan peradaban Indonesia. Lalu bagaimana dengan suara lain dalam peradaban Indonesia tersebut? Puisi dalam hal ini mempunyai posisi penting dalam mengetahui suara lain peradaban Indonesia. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, bahwa puisi dalah suara lain.

Setidaknya ada beberapa puisi dalam kurun waktu masa puncak Orde Baru yang membicarakan kota sebagai bahan bangun puisi. Salah satunya adalah puisi yang dibuat oleh Afrizal Malna. Afrizal Malna adalah penyair yang tumbuh dan besar di kota metropolis Jakarta. Tak khayal, sebagian besar puisi-puisinya sarat dengan kota dan benda-benda modern. Dalam puisi “Restoran dari Bahasa Asing”, kita seakan dibawa dalam tamasya kehidupan modern yang lain.

Restoran dari Bahasa Asing

 

Aku dengar batu dilemparkan ke ruang tamu. Paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon. Tak ada orang sikat gigi malam itu, atau menyisir rambut, seperti dugaanmu penuh batu dari masa lalu. Mulutku penuh lendir, virus stadium lima, menyusun biografimu dari sepatu. Seperti pikiranmu yang mencari tanah air selalu: penuh serdadu, kapal dagang, dan anti-biotika.

 

Ah, ada tamu yang lain, bikin restoran dari bahasa asing. Mereka saling menggosok di tiang listrik. Padahal aku telah jadi dirimu juga, ikut bernyanyi pula lagu-lagu sendu, dengan baju seratus ribu. Mengenakan juga gaya hidup Ani, di antara Sri dan Ayu: Fajar yang tenggelam dalam tubuhmu. Di situ aku dengar bahasa tak henti-hentinya jadi orang asing, penuh lemari, kursi, gas, dan minyak.

 

Aduh, udara penuh cemburu, tali sepatu, kaos kaki, dan obrolan tiga ribu perak. Tetapi aku dengar kepalamu berevolusi jadi jamur, jadi batu, jadi kamar mandi di malam hari. Ah, koran pagi, terasa jadi tiang listrik di situ, untuk pernyataan politik tiga ribu perak.

 

Udara penuh hair spray, virus terluka. Aiih, mari, jangan sombong. Kepalamu penuh batu, menghuni ruang tamu tak terjaga.

 

1991

Dalam puisi tersebut, modernisasi hanya sebatas pandangan semu dan perayaan menjadi segala yang seragam. Modernisasi hanya menawarkan benda-benda mati, bahasa pun hanya menjadi benda-benda tak bertuan. Kita dapat melihat hal tersebut dari metafora-metafora yang dipilih oleh Afrizal Malna dalam membangun sajaknya. Restoran, megapon, sikat gigi, sepatu, tanah air, serdadu, kapal dagang, restoran, tiang listrik, baju, gaya hidup, lemari, gas, minyak, hair spray, koran, dan politik menjadi petunjuk kita untuk memasuki ke­-lain-an peradaban modern Indonesia dalam sajak tersebut. Peradaban modern, dalam sajak tersebut, tak lebih dari tubuh yang dijejali oleh benda-benda. Dan tubuh tersebut pun tidak pernah mengelak dari jejalan benda-benda dan memaksa untuk ikut merayakan keseragaman. Keseragaman yang dimaksud dalam hal ini adalah keseragaman dalam konsumsi benda-benda. Kita tidak pernah memikirkan mengapa kita memilih benda itu, yang kita pikirkan hanyalah mengkonsumsi benda tersebut agar kita dapat eksis dalam sosiokultural  di peradaban modern Indonesia.

Dalam peradaban modern tersebut, identitas tak lagi jadi hal yang istimewa. Semuanya dapat menjadi dengan membeli dalam restoran dari bahasa asing, membeli sepatu berlabel, atau dengan mencatat biografi pribadinya dari benda-benda modern. Kebebasan memilih indentitas ke-aku-an modern tidak lebih dari tumpukan benda-benda yang telah disediakan oleh pasar.

Di sisi lain, sejarah kita (baca: Indonesia), boleh dibilang, merupakan hasil konfrontasi berkepanjangan dengan kolonialisme yang akhirnya mencapai pembebasan. Namun, pembebasan tersebut bukan pembebasan sepenuhnya. Narasi besar keindonesiaan yang ditulis setelah kolonial pada akhirnya terbentur pada benda-benda kota atau modern. Suara Lain Keindonesiaan dalam benak Afrizal Malna, barangkali hanya sebatas pada keindonesiaan yang terbentuk dari ayam goreng dari Amerika dan keindonesiaan yang dibeli dari televisi-televisi dan toko-toko, atau restoran.

[...]

Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal-kapal kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng dari Amerika, atau sampah dari Jerman.

 

Begitu saja semua aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuag stasiun, membuka toko, bank dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi.

[...]

 

(“Beri Aku Kekuasaan”)

Pada puisi “Migrasi dari Kamar Mandi”, ingatan mengenai revolusi dinarasikan kembali oleh Afrizal Malna. Revolusi Indonesia merupakan titik penting perubahan peradaban Indonesia. Revolusi menjadikan bangsa Indonesia eksis di antara bangsa-bangsa lainnya. Melalui revolusi juga, sedikit demi sedikit, modernisasi masuk ke dalam peradaban Indonesia. Proses tersebut layaknya sebuah migrasi dari yang belum ada menjadi sesuatu yang ada.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempat aku mengingat juga: sebuah revolusi hari-hari kemerdekaan, di Pekalongan, Tegal, Brebes, yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, dan alat-alat pembakar bahasa. tetapi mikropon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

 

(“Migrasi dari Kamar Mandi”)

Dalam peradaban modern, kita ramai-ramai meninggalkan benda-benda tradisional (dalam puisi “Migrasi dari Kamar Mandi” metafora untuk benda-benda tradisional adalah tebu, udang, dan batik) dan digantikan dengan benda-benda modern. Kita dihadapkan pada sebuah tatanan baru, tatanan yang tak mengindahkah masa lalu. Perubahan dari tradisional ke modern seakan-akan menawarkan kenyamanan baru, namun migrasi tersebut bersifat paradoks, ia menawarkan kenyamanan melalui kapak, rantai penyiksa, dan alat-alat pembakar bahasa. Begitulah Afrizal menyuarakan pandangannya mengenai modernisasi di Indonesia terutama di Jakarta, ia menyebutkan modernisasi sebagai migrasi berbahaya.

Afrizal Malna, dalam “Orang-orang Jam 7 Pagi”, berhasil menangkap realitas dalam sebuah kota pada pagi hari. Kita tentu tahu, Jakarta yang metropolis memaksa warganya untuk tetap bergerak pada pagi hari, memadati jalanan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dari kemarin. Kondisi tersebut merupakan bagian dari modernisasi. Waktu tak lagi menjadi entitas yang lentur. Melalui waktu, kita dipaksa untuk tetap teratur pada jalur yang ditentukan, contohnya setiap pagi di Jakarta, kita masih saja melihat kemacetan di jalan-jalan utama. Dalam puisi “Orang-orang Jam 7 Pagi”, Afrizal Malna menulis

Selimut masih membayangi sebuah kota, bersama bubur ayam, mentega dalam roti, dan air mendidih di atas kompor. Sepatu mereka mulai menyanyi, menjauh dari teras rumah, bau sabun dan shampo pada rambut basah. Suara ribut di meja makan berubah jadi asap knalpot. Aku adalah 3 KM yang lalu dalam bis penuh sesak, menyelusuri koridor-koridor yang menyimpan betismu, lalu menghilang di balik lift. Aih! Tak ada lagi masyarakat, pada telpon yang kau angkat.

 

Jam 7 pagi aku antarkan tubuhku dalam kristal-kristal vitamin C, lembar-lembar foto copy: Tolong cumi setengah kilo; minyak goreng satu botol; bawang putih. Dan tidur yang tersisa pada rambut seorang ibu, tiba-tiba melempar selimut: siapa yang telah menyusun pagi seperti ini? Suaranya seperti siaran berita yang menggebrak meja.

 

(“Orang-orang Jam 7 Pagi”)

Pagi hari di Jakarta tersusun dari serangkaian kegiatan penuh keributan, sesak, dan asap knalpot. Seperti tidak ada masyarakat yang hidup dalam kota metropolis pada pagi hari. Semua ditentukan oleh rutinitas atas entitas waktu yang membatasi masyarakat, dari meja makan hingga tempat pekerjaan.

Di puisi-puisi lain Afrizal Malna, notasi kecemasan akan peradaban modern terasa semakin kuat. Kota semakin dilumuti oleh kecemasan dari benda-benda modern. Akan tetapi, kota tetap menjadi tawaran menggiurkan bagi sebuah perubahan. Pada puisi “Bis Membawa Mereka Pergi” dan “Mitos-mitos Kecemasan”, perasaan cemas melingkupi seluruh narasi puisi tersebut.

Bis Membawa Kita Pergi

 

Dengan bis  yang asing, kami tinggalkan rumah-rumah tanpa listrik. Berangkat ke negeri-negeri baru, tumbuh di sepanjang jalan. Senja tertahan pada pendaran lampu-lampu neon, dan orang-orang hanya tinggal bayang-bayang berkelabat. Begitu saja anak-istri kami berdandan baju merah biru. Kami putar impian-impian Amerika, seperti mahluk-mahluk yang setiap saat sibuk mengubah diri.

 

Kota seperti etalase dihuni jam weker yang buas di situ. Menangkapi ikan-ikan dari limbah industri. Lalu kami bersorak, kami bisa bekerja apa saja, mengangkat batu, memindahkan hutan dan sungai-sungai, atau mencuri. Tapi siapakah kami, di antara siaran-siaran TV itu, menyentuh sunyi di tengah pasar.

 

Kalau kami telah pergi bersama hembusan angin, tua dan kering. Kami menetes pada setiap impian manusia. Seperti daerah berbahaya yang terbuka, tanpa ada siapa pun yang bisa bicara lagi di situ.

 

1985

Pada bait pertama “Bis Membawa Kita Pergi”, yang dapat kita lihat adalah gambaran tentang perubahan menuju ke tingkat modern. Media untuk perubahan tersebut adalah bis asing yang mengantarkan pada negeri-negeri baru yang penuh dengan neon. Impian-impian tentang Amerika adalah impian tentang kebebasan, pembaruan, dan impian tentang perubahan.  Paradoksial terjadi pada bait dua dan tiga.  Kota yang disimbolkan sebagai tempat impian-impian Amerika ternyata hanya sebuah etalase. Etalase yang menjual segala benda-benda yang dapat mengidentifikasi diri dalam masyarakat kota. Kota menawarkan kebebasan  dalam memilih pekerjaan tapi ternyata kebebasan semu yang didapat. Kebebasan tersebut ternyata diatur oleh permainan pasar yang berlabelkan kapital. Pada akhirnya, di akhir bait kedua, identitas kota yang modern dipertanyakan kembali di tengah hiruk pikuk modernisasi kota dan siaran-siaran TV. Notasi kecemasan muncul di tengah modernisasi kota, kecemasan tentang identitas, subjek, dan pertanyaan terhadap diri sendiri.

Notasi kecemasan juga terdapat pada puisi “Mitos-mitos Kecemasan” (1985). Sebuah kota yang maju dan metropolis ternyata dijaga oleh mitos-mitos kecemasan. Mitos-mitos tersebut berupa senjata. Afrizal, dalam puisi tersebut, menulis

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali bercerita saat-saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahai hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. Burung-burung berterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung mengelilingi kota

(“Mitos-mitos Kecemasan”)

Mari kita bandingkan dengan tulisan sejarah Ricklefs. Ricklefs menuliskan dalam kurun waktu 1980-an di Indonesia terjadi penembakan misterius. Selebihnya ia menuliskan,

These transitions did nothing to lessen the regime’s disregard for the rule of law in security matters. In 1983–5 a crime wave was met with statesanctioned murders without trial of perhaps 5000 alleged criminals across the country. These so-called Petrus killings (from penembakan misterius, mysterious shootings) were carried out by the police and military, with bodies being dumped in public places as warnings to others. Although the government denied knowledge of the killings at the time, in his 1989 autobiography Soeharto made it clear that the killings were state-sponsored ‘shock therapy’.[15]

Jelas sekali, untuk mengukuhkan hegemoni Soeharto, ia menggunakan senjata atau lebih sering dikenal dengan petrus (penembakan misterius). Penembakan tersebut digunakan untuk menjaga lingkungan kota dari para kriminal. Dalam otobiografi Soeharto, ia menuliskan bahwa penembakan misterius dilakukan untuk memberikan shock therapy kepada pelaku kriminal di kota metropolis.  Serupa dengan Ricklesf, Afrizal menangkap peristiwa tersebut dengan ungkapan yang padat, kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Mitos-mitos tersebut berupa senjata yang akan membungkam pengetahuan. Selanjutnya ia menulis kami telah membaca dan menulis di kota itu. Akan tetapi tidak ada pengetahuan yang masuk, hanya kebutaan saat merambahi hari-hari gelap gulita. Begitulah kota metropolis yang kadang menawarkan kebahagiaan. Akan tetapi, peradaban modern menyiratkan sebuah notasi kecemasan. Seperti yang dituliskan Afrizal Malna berikutnya,

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu dimana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

(“Mitos-mitos Kecemasan”)

Modernisasi selalu menimbulkan tumbal bagi society. Salah satunya adalah pengorbanan impian. Notasi kecemasan dalam kutipan tersebut adalah notasi impian-impian anak-anak bangsa kelak yang hanya sebatas jadi bensin, dengan kata lain hanya sebagai bahan bakar bagi gerak modernisasi itu sendiri untuk menambah kota-kota baru sepanjang hari.

Pada akhirnya, notasi-notasi kecemasan dalam peradaban modernisasi tersebut menggenang seperti esok takkan ada lagi yang disapa. Begitulah akhir suara lain Afrizal Malna dalam “Mitos-mitos Kecemasan”. Suara Lain dari peradaban Modern Indonesia yang kian marak dirayakan sampai sekarang. Saat kecemasan itu memuncak, tidak ada lagi subjek yang berbicara, hanya benda-benda modern saja yang berbicara untuk mendikte subjek-nya, seperti tertulis dalam puisi “Warisan Kita”.

Warisan Kita

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting kacaku, emberku, geratan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.

 

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab- kitabku, piring makanku, pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggu, guntungku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

 

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, penumbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci masakku, topiku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau

 

1989

Yang kita wariskan pada generasi penerus hanyalah semesta benda-benda modern yang kelak mendikte kita. Perubahan-perubahan semu yang barang tentu akan terus-menerus menjadi sebuah notasi kecemasan bagi peradaban modern. Begitulah suara lain Afrizal dalam memandang peradaban modern Indonesia. Dan melalui puisilah, peradaban modern dapat dibaca dengan notasi kecemasan.

V

Berdasarkan penjelasan paragaf-paragraf sebelumnya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya karya sastra/puisi mempunyai cara yang unik dalam menangkap peradaban modern. Dalam kasus puisi-puisi Afrizal Malna, peradaban modern Indonesia ditulis ulang dengan narasi penuh kecemasan. Reprensentasi peradaban Indonesia, dalam puisi-puisi Afrizal, adalah kehidupan kota.

Kota menampilkan tawaran-tawaran kemajuan, perubahan, dan pembaruan dalam sebuah etalase-nya. Kota juga menawarkan identitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kehidupan rural. Akan tetapi, suara lain dalam peradaban modern cenderung menampilkan kesemuan-kesemuan yang ditawarkan kota. Kita hanya mendapatkan kebebasan, kemajuan, perubahan, dan pembaruan yang serba semu. Kebebasan, kemajuan, perubahan, dan pembaruan yang bebas kita pilih dalam peradaban modern kota ternyata telah tereduksi oleh sebuah pasar besar yang sering disebut kapital. Demikianlah suara lain peradaban modern dalam Arsitektur Hujan yang telah disusun oleh Afrizal Malna, notasi peradaban kecemasan.**

Depok, 4 Desember 2010

Daftar Pustaka

Abrams, M.H. 1999. A Glossary of Literary Term / 7th Edition. Boston: Heinle & Heinle.

Colleta, Nat. J. 1987. “Pendahuluan” dalam Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan terhadap Antropologi Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rinneke Cipta.

Malna, Afrizal. 1995. Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Bentang.

Masinambow, E.K.M. 2004. “Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya” dalam Tommi Christomy dan Untung Yuwono (ed.), Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.

Paz, Octavio. 2010. Suara Lain: Esai-Esai tentang Puisi Modern. Depok: Komodo Books.

Ricklefs, M.C. 2001.  A History of Modern Indonesia since c. 1200/ 3rd Edition. Hampshire: Palgrave.

Ricoeur, Paul. 2009. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Teeuw, A. 1991. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


*Mahasiswa Program Studi Indonesia, Universitas Indonesia, penggiat komunitas MarkasSastra, dan redaktur KataMini.

[1] Lihat Octavio Paz, Suara Lain: Esai-esai tentang Puisi Modern, (Depok: Komodo Books, 2010).

[2] Op. cit. h.192.

[3] Loc. cit. h.202.

[4] Lihat Afrizal Malna, Arsitektur Hujan, (Yogyakarta: Bentang, 2010). h. Viii.

[5] Lihat Nat. J. Colletta, dalam Pendahuluan Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan Terhadap Antropolgi Terapan di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987) h. 2.

[6] Lihat Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta: Rinneka Cipta, 2000). h. 180.

[7] Op. cit. h. 203-204.

[8] Loc. cit. h. 182

[9] Lihat E.K.M Masinambow, “Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya” dalam Tommy Christomy dan Untung Yuwono (ed.), Semiotika Budaya. (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, 2004), h. 8-9.

[10] Sapardi Djoko Damono,Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas, (Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984), h. 1.

[11] Lihat M. H. Abrams, A Glossary A Literary Term/7th edition, (Boston: Heinle & Heinle, 1999), h. 123-124. Dalam buku On Poetics, Aristoteles mendifinisikan puisi sebagai imitasi (mimesis) dari perilaku manusia. Aristitoteles menambahkan bahwa dalam meniru perilaku manusia, puisi merepresentasikan hal tersebut ke dalam media seni yaitu kata.

[12] Lihat A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), h.59. pendekatan yang ditawarkan oleh Abrams mencakup pendekatan Objektif (melihat karya sastra sebagai struktur yang otonom), pendekatan ekspresif (peranan penulis karya sastra), pendekatan mimetik (hubungan karya sastra dengan dunia nyata), dan pendekatan pragmatik (hubungan karya sastra dengan pembaca).

[13] Lihat Paul Ricoeur, Hermeneutika Ilmu Sosial, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), h. 191.

[14] Lihat M.C. Ricklefs, A Modern of Indonesia History c. 1200/ 3rd edition, (Hampshire: Palgrave, 2001), h. 366.

[15] Ibid, h. 377.

 


blog comments powered by Disqus
 

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Online
Kami memiliki 10 Tamu online
Komentar Terbaru