<iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=7042&sz=468x60" width="478px" height="70px" marginwidth=0 marginheight=0 ></iframe>
Beranda Esai Prasasti Ciaruteun: Suatu teka-teki, Laba-laba atau Lambang Sri?
Baner

Prasasti Ciaruteun: Suatu teka-teki, Laba-laba atau Lambang Sri?

Di wilayah Jawa Barat pernah ditemukan lima buah prasasti dari masa Raja Purnawarman dari Tarumanagara. Di antaranya, empat buah, yaitu: 1) Prasasti Tugu dari Tanjung Priok; 2) Prasasti Ciaruteun dan 3) yang disebut sebagai Prasasti “Kebon Kopi” dari Kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor; dan 4) prasasti yang terletak di atas Pasir Koleangkak (Gunung Batutulis 347 m.), yang terkenal sebagai Prasasti “Jambu” atau Koleangkak dari Kampung Pasirgintung, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Keempat prasasti tersebut. telah dikenal sejak abad ke-19. Prasasti yang kelima baru ditemukan pada tahun 1947 di wilayah Lebak, Munjul, Kabupaten Pandeglang di daerah Banten Selatan. Prasasti ini dianggap berasal dari pertengahan abad kelima Masehi, yaitu dari sekitar tahun 450 M. Di samping prasasti tersebut, terdapat dua buah piktograf, yang merupakan desain seperti huruf kuno, akan tetapi bukanlah tulisan dalam bentuk huruf yang benar. Ada kemungkinan bahwa piktograf ini merupakan lambang yang mempunyai arti yang misterius yang pada saat ini belum dapat diterjemahkan kembali. Kemungkinan yang lain, adalah bahwa desain tersebut meniru tato yang dipakaikan pada badan manusia pada masa itu (seperti yang dibiasakan oleh Orang Dayak di Kalimantan) yang dianggap juga mempunyai kekuatan gaib. Seluruh Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta serta dengan huruf Tamil Grantha (yang biasanya disebutkan huruf “Palawa” dalam karangan Indonesia). Tulisan Grantha ini adalah suatu bentuk tulisan Tamil dari wilayah India Selatan yang muncul pada permulaan era Masehi.

Walaupun kami tidak dapat memberikan keterangan yang lebih lanjut tentang bukti-bukti epigrafis terhadap Prasasti Ciaruteun dari Sang Raja Purnawarman, Pati Tarumanagara sebagaimana yang telah didiskusikan oleh Vogel (Vogel 1925), Damais (1957, 1970) dan De Casparis (1975), pada saat ini dapat dijelaskan satu aspek ikonografis yang bertentangan dengan pendapat para peneliti Belanda pada masa yang lampau. Hal ini berhubungan dengan apa yang telah disebutkannya sebagai “para laba-laba” yang telah diperbincangkan oleh Vogel (1925: 22-25), yang menyatakan:

…prasasti tidak memberikan interpretasi yang menyulitkan bagi kita, ini tidak menimbulkan keraguan dalam penambahan ukiran yang terdapat di atasnya. Pertama-tama kita dapat yang disebut “laba-laba” (yang sesuai dengan keterangan dari lambang ter­sebut) yang terdapat di depan jejak kaki Purnawarman dan kemungkinan ada sangkut-pautnya dengan benang tersebut. Hal ini sebagaimana kita maklumi menimbulkan berbagai spekulasi.

Vogel menambah komentarnya itu dengan diskusi tentang lambang laba-laba dalam kebudayaan India yang telah dikarang oleh seorang peneliti bernama Van Hinloopen–Labberton yang terbit pada tahun 1912. Tulisan tersebut mendiskusikan lambang laba-laba dalam kesusastraan India, terutama lambang laba-laba yang melambangkan brahmana atau jiwa semesta dalam Upanishad. Dalam hal prasasti Ciaruteun, laba-laba dianggap melambangkan penguasa yang melak­sanakan tugasnya mengawasi segenap daerah yang masuk ke dalam kekuasaannya. Pertentangan ini mungkin juga telah timbul karena banyak peneliti yang meneliti hal itu mendasarkan komentarnya pada foto-foto prasasti tersebut dan bukan pada peninjauan langsung terhadap batu prasasti itu sendiri.

Hanya satu di antara ahli-ahli Belanda itu yang menyatakan bahwa gambar tersebut bukanlah laba-laba melainkan merupakan sesuatu yang lain., yaitu Pleyte. Pleyte menulis dalam karangan yang berjudul “Uit het Sunda’s voortijd” pada tahun 1906 bahwa lambang berkenaan adalah bunga teratai (padma). Bahwa ukiran tersebut bukanlah laba-laba sudah jelas dari jumlah kakinya. Memang diketahui umum bahwa jumlah kaki laba-laba (Araneida) adalah delapan. Seandainya peneliti-peneliti Belanda dahulu menghitung jumlah kaki laba-laba yang diukir pada prasasti itu, mereka pasti akan melihat bahwa garis yang merupakan kaki laba-laba sebenarnya berjumlah dua belas pada lambang yang sebelah kiri, dan sepuluh atau dua belas pada lambang yang sebelah kanan. Dari jumlah kaki itu dapat diambil kesimpulan bahwa lambang tersebut bukan laba-laba. Memang, jika dilihat secara sepintas lalu, apalagi jika hanya mengandalkan foto, maka kesannya kurang jelas. Ukirannya (lambang

gb1

Citaruteun : Kaki Dewa Visnu dengan padma lambing Dewi Sri.



gb2

Ciaruteun : Tangkai padma yang dipotong aksara tambahan.


laba-laba) di batu prasasti tersebut kurang jelas dalam foto-foto yang diperiksa peneliti – ukirannya agak dangkal dan garisnya tidak tajam, dengan akibat lambang itu tidak dapat dilihat secara terang.  Keadaan ini mengakibatkan artinya tidak jelas dan dapat diragukan atau tidak dapat dipastikan. Mungkin saja lambang ini bukan laba-laba. Jika kita mengamati secara teliti, maka kelihatan bahwa jumlah garis adalah dua belas.

Ada juga argumen yang ajukan oleh Vogel bahwa ukiran tersebut bukanlah lambang teratai sama sekali. Bentuknya lain sekali dibandingkan dengan lambang teratai yang terkenal dalam kesenian klasik Kebudayaan India, baik yang bergaya Budha atau Hindu. Satu hal yang penting yang harus diingat di sini adalah bahwa ukiran tersebut berada di daerah Sunda (Jawa Barat) dan bukan di India. Ada kemungkinan bahwa lambang tersebut telah diadaptasi dan disesuaikan dengan keadaan setempat.

Kesimpulan yang kami peroleh dari prasasti tersebut adalah, bahwa maksud dan tujuan teks prasasti adalah sesuai dgn bunyi kata ‘lambang paduka mewakili dewa Wisnu’?karena yang dilambangkan di sini adalah dewa Wisnu diwakili oleh Sang Raja Purnawarman, yaitu:

Ini (bekas) dua kaki seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia Sang Purnnawarmman. raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia (Hasan Djafar 1988).

Dalam prasasti tersebut. Sang Purnawarman dikemukakan sebagai penjelmaan kembali dari Dewa Wisnu, di mana Dewa Wisnu dilambangkan oleh sepasang kaki atau paduka. Pada awal Masehi, pada waktu sebelum pembuatan arca terkenal secara umum, para dewa biasanya dilambangkan sebagai paduka. Kebiasaan ini dimanfaatkan oleh para penganut Budha maupun Hindu. Setiap dewa (laki-laki) atau sakta diikuti oleh sakti (padanan perempuannya) Dalam hal ini kita mengambil kesimpulan bahwa ukiran yang disebutkan sebagai laba-laba yang diikat pada masing-masing kaki dengan garis yang merupakan sepotong benang bukanlah laba-laba tetapi lambang bunga teratai yaitu lambang sakti Wisnu, Dewi Sri atau Sri Laksmi, dewi kesuburan terutama sebagai dewi pelindung padi, dewi rezeki, dan kemakmuran. Yang diukir sebagai benang adalah tangkai bunga teratai yang melambangkan pengikat dunia bagian atas dan dunia bagian bawah. Di kemudian hari, Dewi ini telah diberi satu peranan yang amat penting dalam kebudayaan Sunda maupun Jawa. Ukiran ini sebenarnya masing-masing merupakan padma atau bunga teratai dengan tangkainya. Walaupun lambang bunga teratai tersebut berbeda bentuknya dengan bentuk teratai dalam kesenian klasik India tetapi ini tidak. menjadi soal. Ukiran tersebut terdapat di tanah leluhur Sunda dan, karena itu telah terpengaruh oleh sikap penduduk setempat. Jika pendapat kami ini benar, bahwa lambang teratai yang terdapat pada prasasti Citaruteun ini adalah lambang Dewi Sri maka ini merupakan ukiran lambang Dewi Sri dalam bentuk teratai yang tertua di Indonesia dan hal ini unik.

 

 

Daftar Bacaan:

Damais, L.C. “Les Ecritures d’Origine Indienne en Indonesia et dans le Sud-Est Asiatique Continental” Bulletin de la Societe des Etudes Indochinoises.[BSEI], (1955) 30,4. hlm. 365-382.

De Casparis, J.G. Indonesian Palaeography: A Historv of Writing in Indonesia from the Beginning to c. A.D. 1500. Leiden: E.J. Brill (1975).

Djafar, Hasan (Ket. Penyusun) Daftar Inventaris PeninggaJan Arkeologi Masa Tarumanagara. Jakarta: Universitas Tarumanagara (1988).

Pleyte, C.M. “Uit Soenda’s voortijd”, Het Daghet. I. (1905/1906), hlm. 171-178.

Van Hinloopen Labberton, D. “Ueber die Bedeutung der Spinne in der Indische Literatur”. Zeitschrift der Deutschen Morgenlandischen Geseltschaft. 66, (1912). hlm. 601 ff.

Vogel, J.Ph. “The Earliest Sanskrit Inscriptions of Java”, Publicaties van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-lndie. Batavia: (1925), hlm. 15-35.



cisadane

Situs Ciampea dan Kampung Muara: Terletak di genting tanah di antara Sungai Cianten dan Sungai Ciarateun di tempat muara keduanya mengalir masuk ke Sungai Cisadane
blog comments powered by Disqus
 

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Online
Kami memiliki 13 Tamu online
Komentar Terbaru