<iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=7042&sz=468x60" width="478px" height="70px" marginwidth=0 marginheight=0 ></iframe>
Beranda Esai Hakikat Bahasa
Baner

Hakikat Bahasa

Bahasa yang memiliki konten visualisasi, misalnya bahasa yang berbentuk gambar, memiliki kekuatan dan kuasa untuk mengkonstruksi subjektivitas dan kesadaran, meskipun secara samar atau secara diam-diam. Oleh karena itu, bahasa bukan semata-mata alat komunikasi atau sebuah sistem kode atau nilai yang sewenang-wenang menunjuk pada satu realitas yang monolitik. Secara sosial, bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam setting sosial tertentu, daripada tertata menurut hukum dan kaidah secara ilmiah universal.

Martin Heidegger pernah mengungkapkan, bahwa dalam bahasalah bersemayam “sang ada”. Oleh karena itu, sebagai representasi dari hubungan-hubungan sosial tertentu, simbol-simbol bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana tertentu. Jurgen Habermas dalam bukunya ”Zur Logic der Sozialwissenscheften” (1967), telah mengisyaratkan bahwa proses-proses sosial dan politik itu tidak melulu beranyamkan “praksis kerja”, tetapi juga “praksis komunikasi”. Oleh karena itu, penggelaran operasi kekuasaan pun tidak terbatas pada pengendalian sarana sistem produksi material, tetapi tak kalah pentingnya adalah upaya-upaya memanipulasi sistem-sistem reproduksi idea. Singkatnya, bahasa merupakan ruang bagi pergelaran kuasa-kuasa tertentu.

Kesadaran akan pentingnya bahasa sebagai perekat sosial, cara “mengada”, dan berkuasa, telah menyedot minat dan perhatian banyak pemikir besar, serta senantiasa menjadi tema yang cukup dominan dan strategis di sepanjang sejarah filsafat pemikiran ilmu pengetahuan dan kebudayaan selama ini. Dalam perkembangan sejarah pemikiran selama ini, persoalan studi perihal representasi bahasa di dunia, dikenal tiga paradigma besar, yang masing-masing memiliki zeitgeist (jiwa zaman) yang berbeda, yakni paradigma Empirisme-Positivistik, paradigma Fenomenologis-Interpretatif, dan paradigma Kritis (discursive practice).

Adapun salah satu kajian perihal eksistensi bahasa yang kiranya cukup bermakna signifikan-strategis di era sekarang ini yakni kajian mengenai simbol bahasa yang terinterpretasi di media massa. Hal ini lebih disebabkan oleh keberadaan media massa itu sendiri di era “Revolusi Gelombang Ketiga” (Revolusi Komunikasi) di saat ini mempunyai peran yang sangat vital bagi masyarakat, yakni mampu menpengaruhi persepsi, perilaku, serta cara pandang baru atas berbagai persoalan. Hal tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh seorang futurolog terkenal, yakni Alvin Toffler yang mengungkapkan bahwa pada era Revolusi Komunikasi ini, peran media massa baik cetak maupun elektronik menjadi suatu keniscayaan kebutuhan yang tidak bisa terhindarkan di masyarakat. Pada era ini terjadi revolusi informasi dan komunikasi, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “the communication explotion” (ledakan komunikasi). Dalam era ini pula dapat ditemukan verifikasi dari hipotetisnya Alvin Toffler, yakni kaitannya antara infosphere-sociosphere-psycophere teknologi komunikasi yang baru telah membentuk dan mengubah cara hidup kita. Dengan media komunikasi yang baru, “we are fabricating a total psycological environment of ourselves,” demikian ungkapan Frederick William.

Kembali pada persoalan simbol bahasa, Levi–Strauss memandang bahwa yang dinamakan dengan bahasa kebahasaan itu tidak hanya sebatas pada makna dari simbol bahasa tulis maupun lisan, melainkan semua fenomena sosial budaya yang lebih luas, seperti misalnya pakaian, ritual, dan lain-lain, juga dimaknai sebagai gejala bahasa. Bahasa sebagai fenomena cultural text dapat dimaknai sebagai gambaran kontekstual akan warna sebuah realitas sosial dan kultur publik pendukungnya. Namun demikian, teori terbaru mengenai bahasa sebagai bagian dari sebuah kenyataan kultural, ternyata keberadaannya tidak hanya merupakan refleksi dari realitas sosialnya semata, melainkan juga memiliki kemampuan atau daya untuk membentuk atau mengkonstruksi realitas itu sendiri. Bahwa bahasa itu memiliki hubungan dua arah dengan realitas sosial, di satu pihak bahasa dapat menjadi cermin bagi keadaan disekelilingnya, namun di lain pihak ia juga dapat membentuk realitas sosial itu sendiri. Kemampuan bahasa untuk membentuk realitas sosial, juga diungkapkan bahwa semua bahasa memiliki power untuk mengkonstruksi. “Ideology is inhernt within language” (ideologi itu inheren dengan bahasa). Dan karena bahasa memuat ideologi, maka ia sangat berpotensi untuk membentuk subjektivitas seseorang.

Dalam kajian Hermeneutika, bahasa dimaknai tidak hanya melulu sebagai suatu kajian secara struktural saja, melainkan juga penting mencari nilai dasar yang berada dibalik struktur bahasa yang bersifat empiris. Untuk menemukan nilai dasar atau core values tersebut, kemudian mesti mencari terlebih dahulu hakikat bahasa di mana diungkapkannya sebuah realitas. Dari permasalahan tersebut kemudian Filsafat Bahasa dalam kajian Hermeneutika telah menyumbangkan metode ilmiah yang mulai sering dan kerap digunakan dalam penelitian dewasa ini, yakni Analitika Bahasa. Dapat dikatakan bahwa Filsafat Bahasa dalam Hermeneutika mempunyai sumbangan yang penting bagi perkembangan metode ilmiah.

Bahasa secara tersurat atau tersirat, adalah minat semua kalangan, lebih-lebih lagi dari kalangan filsuf. Bahkan, Habermas sendiri, pemikir yang menekankan muafakat (consensus) itu pun turut memerlukan bahasa sebagai medium pada gagasan komunikatifnya. Bahasa, memang sifatnya adalah penyambung, bukan saja antara kelompok, juga antara manusia dengan realiti. Lantaran itu, Ludwig Wittgenstein, mengangkat wacana bahasa ini diangkat ke tingkat falsafah. Dalam Language Games-nya Wittgenstein, sebagai teorinya yang ke-II adalah sungguh berbeda dengan teorinya yang ke-I yang menekankan logika bahasa. Pada Language Games, bahasa termasuk bentuk bahasa biasa (ordinary language) dapat dipahami bahwa bahasa menurut kenyataan penggunaannya merupakan berdampingan atau sejalan dengan realitas kehidupan. Maka permainan bahasa itu mengandung aturan permainan tertentu yang mempunyai karakter atau identitas tersendiri sesuai konteks dan realitas kehidupan. Sebagaimana keanekaragaman dalam hidup manusia memerlukan bahasa yang digunakan dalam konteks-konteks tertentu, dalam Language Games terdapat seperangkat aturan yang harus dipatuhi yang merupakan pedoman dalam penyelenggaraan permainan tersebut.

Aliran Positivisme Logis yang sangat terpengaruh atas Wittgenstein, juga pandangan-pandangan filosofis dari aliran Atomisme Logis mengenai logika, menggunakan teknik analisis yang ditujukan untuk penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Positivisme Logis menerima konsep-konsep Atomisme Logis terutama dalam hal analisis logis malalui bahasa. Positivisme Logis dalam hal Metafisika bersikap menolak tetapi tidak berarti Positivisme Logis PL menafikan kebenaran dunia luar. Ungkapan-ungkapan dan pernyataan-pernyataan Metafisika menurut Positivisme Logis tidak memberikan makna apa-apa atau nirmakna.

Bahasa sebagai gambaran realitas, makna yang terkandung di dalamnya adalah penggambaran suatu keadaan faktual dalam dunia realitas. Ujaran atau kata-kata yang mengandung satu atau lebih proposisi dapat menggambarkan keadaan sebenarnya. Unsur-unsur dalam proposisi dan unsur-unsur dalam realitas mesti sama dan sesuai. Bahasa yang bermakna adalah bahasa yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. Dengan demikian makna diperoleh dari realitas yang melatar-belakangi ungkapan tersebut, konteks dari ungkapan atau proposisi.

Bahasa yang menjadi sarana komunikasi manusia, di mana logika sebagai sebagai kegiatan dengan menggunakan nalar ataupun hukum-hukum tertentu adalah mutlak untuk menciptakan pemahaman dalam suatu komunikasi. Bahasa juga sangat menentukan manusia dalam menguji kebenaran dari pengetahuannya. Maka suatu kebenaran sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa sebagai alat jastifikasi atas pernyataan yang benar berdasarkan definisi. Kaitan bahasa dengan teori kebenaran, bahwa suatu kebenaran dapat dijastifikasi jika pernyataan-pernyataannya sesuai dengan apa yang termuat dalam pernyataan itu. Pernyataan-pernyataan bahasa ini mutlak dipakai dalam teori kebenaran, baik teori kebenaran koherensi, korespondensi, dan pragmatis. Dengan begitu, bahasa sangat menentukan formulasi tentang fakta-fakta untuk menemukan sebuah kebenaran.


blog comments powered by Disqus
 

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Online
Kami memiliki 6 Tamu online
Komentar Terbaru