Usman Awang dan Usmar Ismail
| Esai |
Kedua-dua seniman ini bermula sebagai wartawan. Usman Awang, satu nama besar di Malaysia dilahirkan di Kampung Tanjung Lembu, Kuala Sedeli, Kota Tinggi, Johor, Malaysia pada 12 Juli 1929 sementara Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia pada 20 Maret 1921. Usmar terkenal sebagai wartawan, penulis dan sutradara. Nama sebenarnya yalah Usmar Ismail Sutan Mangkuto Ameh mendapat didikan awalnya di Holandsch-Inlandsche School ( HIS ) Sekolah Menengah Meer Uitgeloreid Legenoaderwijs (MULO) sekolah AMS-All Barat Klasik di Yogyakarta (1941) dan sekolah MenengahTinggi Jakarta ( 1943 ) Pada tahun 1951-1952, Usmar ke University of California, Los Angeles, Amerika Serikat untuk mengakrapi sinematografi. Pada tahun 1950, Usmar menubuhkan PERFINI ( Persatuan Film Nasional Indonesia ) Film pertama beliau ( 1950 ) yalah Darah dan Doa. Diikuti 6 Jam di Yogya ( 1950 ) Dosa Tak Terampun ( 1951 ) Terimalah Laguku ( 1952 ) Krisis ( 1953 ) Kafido ( 1953 ) Lewat Jam Malam ( 1954 ) 3 Dara (1955) Pejuang ( 1955 ) Anak Perawan di Sarang Penyamun ( 1962) dan Ananda ( 1970 ).
Maryam Melap Darah yang Memercik di Lukisan Bapak
KUAS itu masih menari-nari di atas kanvas. Bergerak membentuk garis lurus berwarna hitam, putih, merah dan warna-warna lainnya. Atau sekali-sekali melenggak lenggok dengan warna-warni yang lain. Bergoyang ke kiri atau ke kanan. Dan terkadang ke atas atau ke bawah. Kanvas yang dasarnya putih itu kini berwarna-warni. Tangan mungil itu masih asyik menyapukan cat minyaknya di kanvas, seperti juga hidup, kita sendirilah yang akan memberi warna. Bila kita ingin hidup kita indah berikanlah warna-warna yang manis dalam hidup. Hidup adalah kanvas. Sedangkan kelahiran dan kematian adalah bingkainya. Warnailah hidup kita dengan langkah-langkah yang baik, dengan perbuatan-perbuatan amal, niscaya hidup kita akan terasa indah. Leon Agusta: Suara Burung yang Melintasi Gelombang
Aku pergi Tak tahu bagaimana mengucapkan salam perpisahan Aku hanya mendengar suara burung, disahuti oleh pagi Gemanya menggiring angin melintasi gelombang Cintaku berlayar sampai jauh Rindu bisa tak sampai, sampai tak bisa rindu
(Leon Agusta, “Maninjau Kampung Kelahiran”)[1] Editorial
Mengingat bahwa Horison-online sudah berjalan selama dua tahun sejauh ini masih saja banyak pembaca yang mengira bahwa majalah Horison-online ini sama isinya dengan Horison cetak. Kami dari redaksi Horison-online sekali lagi menegaskan bahwa Horison-online berbeda sama sekali dengan Horison cetak. Baik dari segi isi maupun manajemennya. Kami juga menyampaikan bahwa tulisan-tulisan yang dimuat dalam Horison-online sudah melalui seleksi dan revisi yang dilakukan oleh tim redakasi. Namun, setakat ini kami belum mampu memberikan honor kepada penulis yang tulisannya dimuat dalam majalah online ini. Untuk kompensasi kepada penyumbang tulisan Horison-online kami akan melakukan penerbitan terhadap karya fiksi dan non fiksi yang pernah dimuat dalam Horison-online. Penerbitan dan seleksi akan kami lakukan tanpa meminta izin terlebih dulu kepada penulis. Penulis yang tulisannya dimuat dalam penerbitan nanti akan kami kirimkan 2 eksemplar dari terbitan tersebut. Keberadaan Horison-online lebih ditujukan kepada penulis pemula yang tulisannya dianggap memenuhi kriteria dewan redaksi Horison-online. Namun, kami tetap memuat tulisan-tulisan dari pakar sastra Indonesia yang bersedia menyumbangkan tulisannya untuk dimuat di Horison-online. Akhirullkalam, kami mengucapkan selamat membaca karya-karya dalam Horison-online.Mengungkap Fakta dengan Fiksi
Membaca kumpulan cerpen berjudul Perempuan di Kamar Sebelah ini, kita akan diajak untuk menyelami potret kehidupan para perempuan yang tertindas di negeri ini, menyangkut kekerasan suami terhadap istri, ayah terhadap anak perempuannya, lelaki terhadap perempuan dalam hubungan personal dan nonpersonal, aparatur negara terhadap perempuan, serta perempuan pemegang kekuasaan terhadap perempuan yang lemah kedudukan sosial dan ekominya. Pertukaran Sastra antara Indonesia dan Jerman
1) Pendahuluan Tema “Pertukaran Sastra” sebenarnya sebuah tema yang klasik, telah banyak dibicarakan, termasuk oleh saya sendiri[1]. Namun, tema ini tetap relevan, dan saya berharap bahwa saya dapat menyampaikan berbagai hal yang penting, terutama mengenai pertukaran sastra antara Indonesia dan Jerman yang merupakan fokus makalah ini. Sebelum membicarakan hubungan kesastraan antara kedua negara itu, saya (dalam bab 1 dan 2) akan menyampaikan beberapa pikiran umum, yakni tentang peranan teks sebagai dasar utama dalam pertukaran budaya serta peranan khusus dari teks susastra. Monolog
Senin. 9 AM. Kopi pertama. Aku letakan koran pagi di atas meja dengan kasar. Kamu baru pulang dengan baju berantakan, rambut acak-acakan, dan sepatu ditenteng asal-asalan. “Kamu tahu jam berapa sekarang?” tanyaku kesal. “Maaf Sayang, sehabis lembur aku ketiduran di kantor.” Aku menghela nafas dengan berat, kamu pasti habis tidur dengan sekretarismu lagi. Lagi! Keparat memang perempuan itu! Tapi aku bisa apa? Tidak bisa apa-apa! Sudah tujuh tahun aku membina rumah tangga dengan kamu dan sudah tujuh tahun pula aku mencoba beradaptasi dan menerima kebiasaan burukmu yang tidak dapat disembuhkan meski kamu telah menjalani begitu banyak terapi-terapi yang menguras uang kita. Penyakit kamu: bermain gila dengan perempuan lain. Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya
KATA orang menunggu adalah suatu pekerjaan yang membosankan, terkadang memang begitu. Tapi kali ini, bagiku menunggu tidaklah begitu membosankan. Aku sedang menunggu bis di Terminal Sungai Kunjang. Dan aku menunggu ditemani oleh pacarku. Hal itulah yang tidak membosankan bagiku. Biarlah bis berangkatnya lebih lama. Agak siang sedikit juga tak apa. Aku tak tergesa-gesa. Waktu masih panjang. Aku masih ingin bercakap-cakap. Sebagai seorang mahasiswa aku harus mengadakan penelitian untuk menulis sebuah skripsi, yang merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan. Sesuai dengan judul penelitianku yang telah disetujui oleh pembimbingku, yaitu Pengaruh Pemberian Artemia Flake dengan Frekuensi dan Persentase yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Benur Udang Windu (Panaeus Monodon Faricius), maka aku harus ke Balai Benih Udang Manggar di Balikpapan. “PRIVATE SYMBOL” Dalam Celana, Tukang Cukur, Dan Bulu Matamu: Padang Ililang Karya Joko Pinurbo
Bulu mata, tukang cukur, becak, kulkas, salon kecantikan, patroli, dan kurcaci. Mungkin kata-kata yang baru saja saya tulis adalah kata-kata yang biasa kita dengar dan kita ucapkan sehari-hari. Setiap kata mempunyai makna masing-masing yang dengan mudah kita kuasai dan kita ucapkan tanpa berpikir lagi. Dari kata-kata sehari-hari itu, Joko Pinurbo dapat menulis beberapa kumpulan sajak, diantaranya: Celana (sajak-sajak 1986-1998), Di Bawah Kibaran Sarung (sajak-sajak 1999-2000), Pacar Kecilku (sajak-sajak 2001-2002). Genius Menulis: Penerang Batin Para Penulis
Pengarang: Faiz Manshur Pengantar: Remy Sylado Editor: Miftahudin Penerbit: Nuansa Cendekia, Bandung (Anggota IKAPI) Desain Sampul: Laksmitha Ratu Indira. Tahun: Cetakan I Januari 2012 Tebal: 288 Hlm. ISBN: 978-602-839454-3 Harga: Rp 56.000 Sukses, Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya di Padang
PRESS RELEASE
Kegiatan sastra dan budaya melayu bertaraf internasional ini melibatkan lima negara (Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia), diikuti sekitar 200-an sastrawan dan penulis muda. |




Judul buku : Perempuan di Kamar Sebelah, Penulis : Chairil Gibran Ramadhan, Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, Tahun : 2012, Tebal : 200 halaman, Harga : Rp 39.800,
Judul: Genius Menulis: Penerang Batin Para Penulis.
PADANG –Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (TSN-1) yang digelar Dinas Pariwisata Kota Padang bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) dan penulis-penulis muda Sumatera Barat berlangsung sukses dan berakhir Ahad, 18 Maret 2012 lalu.

















